Minggu, 28 Juli 2019

Kritik Film - The Nun 2018



The Nun (2018)
96 min|Horror, Mystery, Thriller|07 Sep 2018
5.8Rating: 5.8 / 10 from 28,390 usersMetascore: 46


A priest with a haunted past and a novice on the threshold of her final vows are sent by the Vatican to investigate the death of a young nun in Romania and confront a malevolent force in the form of a demonic nun.


Director: Corin Hardy
Creator: Gary Dauberman (screenplay by), James Wan (story by), Gary Dauberman (story by)
Actors: Demián Bichir, Taissa Farmiga, Jonas Bloquet, Bonnie Aarons


The Nun merupakan film ke lima dari franchise The Conjuring, yang merupakan spin-off dari film The Conjuring 2. The Nun digarap oleh Corin Hardy (The Hallow) serta dibintangi beberapa nama yang masih asing atau kurang populer, yakni Taissa Farmiga, Demian Bichir, dan Jonas Bloquet. Dengan bujet US$ 22 juta dan kepopuleran franchise-nya, rasanya tak sulit film ini bakal meraih sukses komersial, terlepas bagaimana pun kualitas filmnya.


Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut.
Hey, tunggu, mana Valak? Saya pikir film ini bakal bicara soal asal muasal sang iblis Valak. Rasanya penonton pun bakal berpikiran sama, namun kenyatannya bertutur lain. Film sebenarnya dibuka dengan sangat baik melalui adegan mencekam yang tak banyak memberikan banyak informasi. Alhasil, kisahnya menjadi penuh misteri dan memberi rasa penasaran yang kuat bagi penonton. Berjalannya waktu, sisi misteri satu demi satu terungkap, namun sisi asal muasal sang iblis tak terjawab secara memuaskan. Lalu siapa sebenarnya suster yg dirasuki sang iblis? Plotnya hanya mampu memberikan jawaban satu rangkaian kontinuiti cerita dengan dua film The Conjuring.


Satu hal yang sangat mengesankan dalam film ini jelas ada pada sisi artistiknya. Setting eksterior maupun interior nyaris sama baiknya untuk mendukung atmosfir mistisnya. Sudah terlalu lama, sejak genre ini menampilkan kualitas setting dan tata cahaya begitu menawan seperti ini. Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat dua tokoh utamanya, menyusuri ruang demi ruang, dan lorong demi lorong yang gelap gulita. Rasanya ini adalah setting horor terbaik sejak beberapa dekade silam. Ilustrasi musik juga teramat mendukung segmen horornya maupun jump scare. Hanya saja, bicara soal takut menakuti, film ini terasa kurang menendang, hanya jump scare biasa yang sesekali memang mengagetkan. Hanya sayangnya pula, interior kastil yang sedemikian besar tidak dieksplorasi ruang per ruang hingga terasa agak mubazir.


The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir. Teramat disayangkan dengan latar cerita dan setting yang demikian mengagumkan, para pembuat film kurang mampu mengeksplor naskahnya dengan kedalaman tema serta pesan cerita yang kuat. Coba bayangkan, sisi religius yang terkontaminasi kekuatan iblis berlatar cerita pasca-PD II? What more do you ask? Sayang sekali. Sungguh sayang sekali.







ANALISIS


Seorang imam dengan masa lalu yang angker dan seorang pemula di ambang sumpah terakhirnya dikirim oleh Vatikan untuk menyelidiki kematian seorang biarawati muda di Rumania dan menghadapi kekuatan jahat dalam bentuk seorang biarawati setan.


1. Deskripsi
     a. Informasi dasar film
         - Sutradara                    Director: Corin Hardy
         - Tahun liris                  07 Sep 2018
         - Pemain utama             Demián Bichir, Taissa Farmiga, Jonas Bloquet, Bonnie Aarons
         - Durasi                         96 min
         - Jenis film/Genre         Horror, Mystery, Thriller

     b. Sinopsis singkat
       Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut.

     c. Isu yang menyertai sebelum tayang
         The Nun merupakan film ke lima dari franchise The Conjuring, yang merupakan spin-off dari film The Conjuring 2. The Nun digarap oleh Corin Hardy (The Hallow) serta dibintangi beberapa nama yang masih asing atau kurang populer, yakni Taissa Farmiga, Demian Bichir, dan Jonas Bloquet. Dengan bujet US$ 22 juta dan kepopuleran franchise-nya, rasanya tak sulit film ini bakal meraih sukses komersial, terlepas bagaimana pun kualitas filmnya.


2. Analisis formal

 a. Naratif
     - Alur film
          Hey, tunggu, mana Valak? Saya pikir film ini bakal bicara soal asal muasal sang iblis Valak. Rasanya penonton pun bakal berpikiran sama, namun kenyatannya bertutur lain. Film sebenarnya dibuka dengan sangat baik melalui adegan mencekam yang tak banyak memberikan banyak informasi. Alhasil, kisahnya menjadi penuh misteri dan memberi rasa penasaran yang kuat bagi penonton. Berjalannya waktu, sisi misteri satu demi satu terungkap, namun sisi asal muasal sang iblis tak terjawab secara memuaskan. Lalu siapa sebenarnya suster yg dirasuki sang iblis? Plotnya hanya mampu memberikan jawaban satu rangkaian kontinuiti cerita dengan dua film The Conjuring.

      - Batasan isi film
           Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut

      - Pengadeganan
           Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut.

       - Pola struktur naratif
       - Studi kasus dalam film

           Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut


b. Sinematik


- Stuktur film (Shot, adegan, sekuen)
Satu hal yang sangat mengesankan dalam film ini jelas ada pada sisi artistiknya. Setting eksterior maupun interior nyaris sama baiknya untuk mendukung atmosfir mistisnya. Sudah terlalu lama, sejak genre ini menampilkan kualitas setting dan tata cahaya begitu menawan seperti ini. Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat dua tokoh utamanya, menyusuri ruang demi ruang, dan lorong demi lorong yang gelap gulita. Rasanya ini adalah setting horor terbaik sejak beberapa dekade silam. Ilustrasi musik juga teramat mendukung segmen horornya maupun jump scare. Hanya saja, bicara soal takut menakuti, film ini terasa kurang menendang, hanya jump scare biasa yang sesekali memang mengagetkan. Hanya sayangnya pula, interior kastil yang sedemikian besar tidak dieksplorasi ruang per ruang hingga terasa agak mubazir.

- Mise en scene (Setting, Kostum, tata rias, lighting, blocking)
The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir. Teramat disayangkan dengan latar cerita dan setting yang demikian mengagumkan, para pembuat film kurang mampu mengeksplor naskahnya dengan kedalaman tema serta pesan cerita yang kuat. Coba bayangkan, sisi religius yang terkontaminasi kekuatan iblis berlatar cerita pasca-PD II? What more do you ask? Sayang sekali. Sungguh sayang sekali

- Sinematografi
The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir

3. Interpretasi
4. Penilaian
5. Aspek yang dikritik
Hey, tunggu, mana Valak? Saya pikir film ini bakal bicara soal asal muasal sang iblis Valak. Rasanya penonton pun bakal berpikiran sama, namun kenyatannya bertutur lain. Film sebenarnya dibuka dengan sangat baik melalui adegan mencekam yang tak banyak memberikan banyak informasi. Alhasil, kisahnya menjadi penuh misteri dan memberi rasa penasaran yang kuat bagi penonton. Berjalannya waktu, sisi misteri satu demi satu terungkap, namun sisi asal muasal sang iblis tak terjawab secara memuaskan. Lalu siapa sebenarnya suster yg dirasuki sang iblis? Plotnya hanya mampu memberikan jawaban satu rangkaian kontinuiti cerita dengan dua film The Conjuring.

Satu hal yang sangat mengesankan dalam film ini jelas ada pada sisi artistiknya. Setting eksterior maupun interior nyaris sama baiknya untuk mendukung atmosfir mistisnya. Sudah terlalu lama, sejak genre ini menampilkan kualitas setting dan tata cahaya begitu menawan seperti ini. Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat dua tokoh utamanya, menyusuri ruang demi ruang, dan lorong demi lorong yang gelap gulita. Rasanya ini adalah setting horor terbaik sejak beberapa dekade silam. Ilustrasi musik juga teramat mendukung segmen horornya maupun jump scare. Hanya saja, bicara soal takut menakuti, film ini terasa kurang menendang, hanya jump scare biasa yang sesekali memang mengagetkan. Hanya sayangnya pula, interior kastil yang sedemikian besar tidak dieksplorasi ruang per ruang hingga terasa agak mubazir.

The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir. Teramat disayangkan dengan latar cerita dan setting yang demikian mengagumkan, para pembuat film kurang mampu mengeksplor naskahnya dengan kedalaman tema serta pesan cerita yang kuat. Coba bayangkan, sisi religius yang terkontaminasi kekuatan iblis berlatar cerita pasca-PD II? What more do you ask? Sayang sekali. Sungguh sayang sekali.







ISI Surakarta - Materi Seminar Proposal 2018


SEMINAR
Mata Kuliah : Seminar
Pengampu    : Doni Fadjar Kurniawan, SS., M.Si., M.Hum
Ruang                        : G3 3A
Jam                 : 07.30-10.10 (1-3)

Pertemuan 1
-         Seminar merupakan matakuliah lanjutan, dengan prasyarat harus lulus mata kuliah Bahasa Indonesia dan Metopen minimal dengan nilai (B)
-         Nilai dari Penulisan (Baku) hanya mempunyai nilai 10 dari 100.
-         Penanganan :
1.     Judul
2.     Latar Belakang
3.     Rumusan Masalah
4.     Tinjauan Pustaka
5.     Kerangka Teoritis
6.     Metode Penelitian
7.     Teknik Presentasi
8.     Media Presentasi
9.     Presentasi proposal skripsi dengan benar
-         PR :
1.     Jenis diskusi?
2.     Bedanya skripsi dengan proposal?
3.     Ikuti seminar resmi?
4.     Mulai masuk mengerjakan ide dan proposal skripsi
Pertemuan 2
-         Membicarakan tentang penyusunan proposal skripsi
HALAMAN JUDUL
-         Judul
1.     Font judul times new roman
2.     Size 16pt (Bold)
3.     Center
4.     Maksimal panjang judul 4 baris, disesuaikan tanda baca jika enter
5.     Diusahakan juga mengusung materi pembahasan di luar televisi

-         Jurusan
1.     Bertuliskan “Untuk memenuhi ....” dengan lanjutan, nama Jurusan dan Progam studi.

-         Tulisan SKRIPSI
1.     Di bawah judul
2.     Jika sebelum skripsi, dengan tulisan Proposal skripsi. Setelah skripsi tidak ada tulisan laporan skripsi. Namun langsung skripsi
-         Logo
1.     Ukuran 4cm, dengan hitam putih (logo baru)
-         Fakultas dan Institut
1.     Sesuai dengan jurusan masing-masing


HALAMAN PENGESAHAN
-         Berisikan pengesahan. Dengan ketentuan Prodi ttd di kanan, dan pembimbing di kiri. Disesuaikan dengan jabatan

Pertemuan 3
MULAI MASUK JUDUL YAKK...
-         Tanggal 23 April mulai presentasi proposal
TANGGAL 4 HARUS ADA JUDUL
-         Tanggal 21 Mei @ncf presentasi proposal
-         Cara memulai skripsi:
a.     Temukan objek penelitian
b.     Analisis objek penelitian ke pengertian (referensi) ke judul
c.      Judul, diberi keterangan akan membahas apa.
Ex: ......... menurut teori
-         Susunan Skripsi:
Ketika membahas film, harus punya original (dibahas di objek penelitian)
-         Referensi:
a.     Visual Sosiologi
b.     Perempuan, menurut Islam dan kalr Mark
c.      Representasi budaya Jawa (Zo wes ben)
MEMPERCEPAT PENELITIAN, TIDAK MELULU KP STASIUN TELEVISI BESAR, NAMUN SESUAI DENGAN PENELITIAN SKRIPSI

-         Analisis KP dan Skripsi
a.     Tidak memulu stasiun televisi, namun dapat:
A.    Wacana dan kritik: Montase, Cinematex (pengarsipan film), Pusbag film
B.     Sejarah film, sejarah estetika
C.     Wilayah progam – Riset Development : menjadi konsultan progam (LITBANG)
D.    Asisten sutradara, tokoh, maupun produser
b.     Buat proposal KP sesuai skripsi, untuk 1 langkah 2 hasil. KP dijadikan tempat penelitian skripsi dan penyalur kerja

SECERCAH HARAPAN UNTUK LULUS 4 TAHUN.


Pertemuan 4
-         Minggu ke 9 bab 1 harus selesai
-         Di dalam proposal harus mengacu referensi yang mirip
-         Pembatasan Penelitian:
a.     Kita dalam ruang lingkup produser (televisi dan film)
b.     Penelitian lain: Studi Khalayak, Literasi Media, Kritik Film
-         Trik sukses KP dan Skripsi: (Kakak tingkat 2013)
a.     Cari tempat KP yang tidak dipersulit
b.     Step:
1.     Merumuskan/menemukan IDE, sesuaikan dengan KEMAMPUAN
2.     Tulis proposal dengan sistem ALUR PEMIKIRAN jelas
3.     Plaining waktu penelitian hingga pendadaran, DAFTAR CAPAIAN
4.     Hadapi ujian dengan tenang.
c.      Perhatikan kesalahan kecil
BAB I
1.     Penggunaan “akan” jangan dicantumkan di dalam skripsi.
2.     Tulis skripsi dengan jelas dan spesifik
BAB II
1.     Deskripsi objek : menggunakan cara tutur yang lugas dan jangan berbelit, fokus ke masalah
BAB III
1.     Pembahasan : fokus pada penelitian. Hindari teori-teori yang telah dicantumkan pada BAB II. Fokus dengan penjelasan penelitian
2.     Uraian jawaban dari Rumusan Masalah
BAB IV
1.     Penutup: Kesimpulan, dari BAB I-III dilanjutkan saran
d.     Kendala yang sering terjadi
1.     Subjek penelitian, seringkali untuk menentukan judul dan subjek akan sulit dalam skripsi. Untuk itu dimulai dari sekarang memilih objek penelitian yang jelas dengan kemampuan. Perlu mempertimbangkan juga dengan ke depan subjek sulit ditemui atau tidak.
2.     Metode pengumpulan data, di awal penelitian yang tidak terstruktur akan menggunakan metode penelitian yang sering dipahami. Namun di jalan akan mendapat hambatan. Maka rubahlah metode pengumpulan data sesegera mungkin. Agar penelitian ke depannya berjalan dengan sesuai rencana.
3.     Fokus objek, fokuslah dengan objek penelitian. Jangan merubah meskipun itu lebih menguntungkan penelitian. Sesuaikan dan tetaplah berpegang dengan proposal skripsi
-         Presentasi :
Pada dasarnya, penguji seringkali tidak memperhatikan ppt. Penguji akan fokus pada isi skripsi yang dikumpulkan. Namun itu sebagai senjata untuk membuat nilai tersendiri.
a.     Konten:
1.     Pilih point penting
2.     Filter dari subbab terkecil
3.     Susun ppt secara tersetruktur
b.     Design
1.     Buat simple dan menarik
2.     Hindari kalimat panjang
3.     Infografis
c.      Timing
Ingatlah dan sadar akan timing presentasi. Biasanya 15 menit presentasi kemudian perntanyaan
d.     Perntayaan
Pertanyaan dari penguji biasanya yang paling ditakuti. Tetaplah tenang dan jawab secara jujur. Paling sering menanyakan:
A.    Keterkaitan dan alasan judul
B.     Kerangka berfikir (metode penelitian)
C.     Alasan penggunaan teori

ISI Surakarta - Tugas Seminar Proposal 2018


KRITIK FILM PADA SITUS “MONTASE” DALAM MENGEMBANGKAN FILM LAYAR LEBAR INDONESIA

PROPOSAL TUGAS AKHIR SKRIPSI

Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna
Mencapai Derajat Sarjana Strata-1 (S-1)
Program Studi Televisi dan Film
Jurusan Seni Media Rekam 

 

Oleh:
Ahmad Nur Chafid Fitriyan
NIM 15148103


FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT SENI INDENESIA
SURAKARTA
2018






DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .........................................................................          i
HALAMAN PERSETUJUAN ...............................................................         ii
DAFTAR ISI .......................................................................................            iii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ..........................................................................           1
B.     Rumusan Masalah .....................................................................            4
C.     Tujuan Penelitian .......................................................................           4
D.    Manfaat Penelitian .....................................................................           4
E.     Tinjauan Pustaka .......................................................................            4
F.      Kerangka Konseptual
a.       Tema dan Maksud ................................................................            6
b.      Unsur Cerita dan Dramatik ....................................................          6
c.       Simbol ................................................................................              7
d.      Karakterisasi dan Akting .......................................................          7
e.       Konflik ................................................................................             7
f.       Setting .................................................................................              8
g.      Judul ...................................................................................              8
h.      Ironi ....................................................................................              8
i.        Unsur Visual ........................................................................            8
j.        Editing ................................................................................             9
k.      Tata Cahaya dan Suara ..........................................................          9
G.    Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian ....................................................................             11
2.      Objek Penelitian ..................................................................             11
3.      Sumber Data ........................................................................            11
4.      Teknik Pengumpulan Data ....................................................           12
5.      Teknis Analisis Data .............................................................           13
H.    Sistematika Penulisan .................................................................          15
I.       Jadwal Penelitian .......................................................................           16
J.       Daftar Acuan .............................................................................           17    








BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang

Berbicara tentang kritik selalu akan menghadapi ketidaksukaan. Kebanyakan kritik akan disandingkan dengan pendapat negatif tentang suatu kajian yang dikritik. Padahal sebenarnya alasan dimunculkanya suatu kritik adalah untuk membangun. Baik itu berupa kritik negatif maupun positif, akan sangat bergantung pada penerimaan yang dikritik. Istilah kritik berasal dari bahasa Yunani krites berarti seseorang hakim; krinien berarti menghakimi; kriterion diartikan sebagai dasar penghakiman, dan kritikos berarti hakim kesenian. Fuad Hassan meninjau pengertian kritik dari istilah kritos atau krinein, yang berarti memilah-milah atau memisah-misah[1].
Kritik tidak melulu pada suatu kajian yang bersifat teoretis, lebih luas lagi kritik mencakup pula ranah seni. Seni yang dianggap terbelakang dengan tehnologi, ternyata pada era sekarang seni menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan. Maju mundurnya kritik tergantung sepenuhnya pada maju mundurnya sang objek[2]. Pandangan yang mendeskriminasi kritikus akan terpatahkan jika memahami kritikus sebenarnya dihadirkan untuk membuat matang seniman dalam berkarya ke depannya.
Perkembangan kritik film Indonesia sangat memperhatikan dari tahun ke tahun. Pada awal munculnya film di Indonesia pada 1950-1990 sempat mengalami kejaan. Jumlah kritikus sempat menurun pada awal tahun 2000 an. Kemunduran ini jika dilihat dari ranah kritik seakan kritik memang sengaja dimundurkan. Pada awal tahun 2000 an, kritik film seakan mengjhilang dengan tidak adanya ruang seperti dahulu pada tahun 1990 an. Realitas ini dapat dilihat dari kemunculan film pada tahun 2000 an yang bermacam-macam namun tidak menjelaskan makna yang lebih dari film yang tayang.
Pada tahun 2000an sangat sedikit sekali film yang bermutu dilihat dari segi filmatiknya. Hanya sekedar membuat film dan memperoleh untung dari film yang tayang di bioskop. Pada waktu itu tidak adanya sensor yang ketat dan segmentasi penonton membuat film layar Indonesia seakan kabur pendangannya.
Kritikus film saat ini terbantu dengan adanya kemajuan tehnologi. Tidak harus menulis di surat kabar maupun koran untuk menyampaikan apresiasinya terhadap film. Saat ini banyak kritikus luar negri yang menitih karir dengan menulis kritik di website, blog, maupun media sosial. Namun permasalahan akan muncul akankah dibaca atau tidak. Montase adalah salah satu website kritik film. Meskipun tidak fokus terhadap kritik film yang mendalam, namun website ini menghadirkan kritik dengan nuansa lain. Montase didirikan untuk memberi payung kepada para pengamat film dalam menulis kritik maupun review mereka. Didirikan oleh Himawan Pratista yang merupakan guru pengajar dasar film di beberapa kampus. Montase memberikan review maupun kritik yang dapat dikatakan tidak terlalu pedas bagi umumnya kritikus di luar negeri. Dikarenakan tujuan utama Montase adalah membangun stigma masyarakat yang pandai film.
Montase membangun stigma masyarakat yang pandai film. Website yang menghadirkan ulasan review film, informasi tentang film, berita film yang sedang tayang di bioskop, dan lain-lain. Situs ini juga tempat berkumpul para penyuka film untuk membuat film bagi para pemula. Meskipun baru beberapa tahun berdiri, namun situs telah menjembatani bagi para penyuka film untuk berkreasi.
Kritik yang dibuat pada situs Montase berdasarkan pengalaman kritikus setelah menonton film. Montase menyebut kritik dengan review film. Meskipun review dan kritik tipis perbedaan yang dimunculkan, namun itu tetap disebut sebagai salahsatu apresiasi film. Kebanyakan kritik ditulis untuk film yang baru rilis di bioskop. Mengapa demikian, karena itu yang dibutuhkan oleh penonton sebelum menonton ataupun setelah menonton pada hari pertama penayangan film.
Alur yang diciptakan membuat kritik pada situs ini adalah ketika setelah melihat review, penonton akan merasa spoiler. Atau penonton akan lebih tahu setelah melihat review dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saat menonton film. Menjadikan penonton yang lebih pandai dalam memilih film dan mengerti akan maksud yang ingin disampaikan sutradara kepada penonton melalui film.
Penonton yang cerdas akan meningkatkan kualitas film. Penonton akan pandai dalam menyeleksi film mana yang ia harus tonton sesuai dengan kebutuhan. Pada era new media ini, tentu akan meningkatkan kuantitas jika bangunan dasar kualitas film yang baik. Untuk merealisasikan itu salahsatunya dengan kajian. Kami memberikan judul proposal skripsi  dengan judul " Kritik Film pada Situs “Montase” dalam Mengembangkan Film Layar Lebar Indonesia ". Montase hadir memberikan angin segar bagi penonton untuk mengapresiasi  sebuah film. Semakin cerdas  penonton dengan apresiasi, maka semakin tinggi pula kualitas film yang dibuat oleh para sineas.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan penelitian ini adalah Bagaimana membuat kritik film dengan teknik yang digunakan situs Montase untuk mengembangkan film layar lebar Indonesia.
C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji secara mendalam cara membuat kritik film menurut situs Montase melalui paparan deskriptif kualitatif.
D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat secara luas : Penelitian dapat digunakan untuk membenamkan pada diri penonton untuk kritis terhadap film dan memperkenalkan situs Montase,
2.      Manfaat secara khusus : Penelitian dapat digunakan untuk menambah referensi tentang kritik film pada penelitian yang lain.

E.  Tinjaun Pustaka
Berdasarkan hasil observasi pada penelitian melalui kepustakaan. Ditemukan di lapangan bahwa penelitian tentang kritik film sudah banyak. Namun perlu diketahui bahwa penelitian kebanyakan sudah usang. Dikarenakan kebanyakan penelitian sebelum tahun 2000an, antara tahun 2000-2015 an dapat dikatakan penelitian kritik seakan mati. Belum diketahui penyebabnya, atau mungkin belum menemukan penelitian tentang kritik film yang sejenis
Jurnal Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Institut STIAMI oleh Euis Komalawati, berjudul Industri Film Indonesia: Membangun Keselarasan Ekonomi Media Film dan Kualitas Konten, diterbitkan 2017. Menjelaskan tentang perkembangan industri perfilman Indonesia saat ini. Jurnal ini akan dipakai pada pembahasan tentang perkembangan apresiasi film Indonesia. Persamaan dengan penelitian adalah jurnal ini sama-sama membahas perkembangan apresiasi penonton film Indonesia. Perbedaan jurnal ini dengan penelitian adalah peneletian terfokus dalam situs Montase sebagai apresiasi dan review film Indonesia, sedangkan jurnal ini perkembangan ekonomi film Indonesia jika dilihat dari sudut pandang ekonomi.
Jurnal Litera. FBS Universitas Negri Yogyakarta oleh Nurhidayah, berjudul Peningkatan Keterampilan Menyimak Apresiatif dan Kreatif Tayangan Film melalui Teknik Pencatatan 5R (Record, Reduce, Reciti, Reflect, and Review), diterbitkan 2015. Jurnal ini menjelaskan tentang proses Apresiasi film dengan teknik Pencatatan 5R. Lebih fokus lagi tentang cara membuat kritik film dengan konsep komunikasi dan bahasa. Jurnal ini digunakan sebagai pengambilan konsep apresiasi film dilihat dari bahasa. Persamaan dengan penelitian yaitu sama-sama membahas kritik film. Perbedaan dengan penelitian yaitu penelitian membahas proses atau konsep yang digunakan situs Montase dalam membuat kritik (review) film menurut konsep sinematik. sedangkan jurnal ini membahas konsep membuat apresiasi film dengan teknik 5R (Teknik Komunikasi).
.  Buku “Dasar-Dasar Apresiasi Film” karya Marselli Sumarno, buku ini menjelaskan tentang konsep model yang digunakan Marselli dalam prosedur pendekatan film demi penilaian. Model yang dia gunakan dalam mengkritisi suatu film. Model ini yang akan dijadikan perbandingan dengan konsep Montase dalam membuat suatu kriktik film.
Buku “Pantulan Layar Putih” Karya Salim Said, Buku ini menjelaskan permasalahan-permasalahan yang dihadapi kritikus pada tahun 90an dan penyelesaian. Pada dasarnya permasalahan yang dirasakan kritikus merupakan suatu delima yang berketerusan selama kritikus itu ada. Buku ini menjelaskan juga pengalaman kritikus pada masanya. Dengan mengambil data dari buku ini, akan dijelaskan dalam penelitian bahwa kritikus sangat mempengaruhi penonton dan film. Pengaplikasian terhadap penelitian adalah memperkuat statement Montase dalam menyampaikan konsep cara menjadi kritikus.
Dari beberapa penelitian yang ditemukan, belum di temukan penelitian kritik film yang diaplikasikan di suatu new media seperti Montase. “Kritik Film pada Situs Montase dalam Mengembangkan Layar Lebar Indonesia” yang memfokuskan kritik pada new media. Sangat berbeda dengan kritik konvensional. Membuat melek film dengan belajar pada kritikus film. 
F.     Kerangka Konseptual
Memahami kritik dan membuat kritik  memerlukan sebuah pendekatan. Pendekatan analitik bukanlah salahsatunya pendekatan yang berlaku dalam pengkajian film. Pendekatan ini yang digunakan dalam banyak kajian daripada pendekatan emosional dan intuitif tidak dapat digunakan karena bersifat subjektif dari satu orang ke orang lain[3]. Pendekatan yang analitik digunakan oleh situs Montase dalam membuat kritik. Beberapa aspek yang harus ada ketika membuat kritik film.
1.      Tema dan Maksud
Tema dan maksud ketika memahami sebuah film diperlukan agar dapat merasakan apa yang ingin dikatakan film. Tema sangatlah penting karena mempengaruhi sudut pandang penonton dalam menonton film. Salah satu yang harus digunakan untuk mempermudah memahami film adalah dengan menonton dua kali. Memang sulit menerima isi film jika menonton sepintas. Terkadang kesan pertama menonton film adalah menikmati film, bukan mempelajari film.
Menentukan dan tipe dasar film harus dilakukan selanjutnya dan membreakdown film berdasarkan tema.
a.       Plot sebagai tema
b.      Emosional sebagai tema
c.       Tokoh sebagai tema
d.      Ide sebagai tema
Setelah mengetahui tema yang ada dalam film. Selanjutnya adalah menilai tema. Penilaian ini bersifat umum dan penilaian sementara untuk film.
2.      Unsur Cerita dan Dramatik
Menarik atau tidaknya film juga dipengaruhi oleh unsur cerita. Sebuah cerita yang bagus dipersatukan dalam kesatuan plot, bisa masuk akal, menarik bagi penonton,  memberikan kesan berbeda seperti suspen atau ketegangan, ataupun action dan gerak yang berbeda. Sebuah cerita yang bagus bersahaja tapi sekaligus kompleks. Kompleks disini bukan menuntut tema film yang kompleks, tapi lebih kepada jalan cerita yang tidak datar-datar. Sebuah cerita yang baik menahan diri dalam mengolah materi emosional.
Struktur dramatik penataan bagian-bagian secara logis dan estetis untuk menghasilkan dampak emosional intelektual dan dramatik yang maksimum. Biasanya struktur dramatik meliputi tiga babak. Permulaan, permasalahan, dan penyelesaian. Namun itu bukanlah suatu hal yang simple seperti itu. Setiap babak mempunyai penekanan masing-masing dan saling terkait satu sama lain. Suasana penonton dimainkan dalam struktur dramatik ini.
3.      Simbol
Simbol merupakan sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dan yang mengkomunikasikan “sesuatu yang lain” itu dengan jalan merangsang. Memberikan stigma kepada penonton melalui simbol-simbol. Simbol yang universal dan alamiah merupakan dasar dalam kehidupan sehari-hari karena sering dimunculkan. Pembuat film juga akan menciptakan simbol bilamana bahasa film tidak dapat tervisualisasi pada film. Konsep yang perlu digunakan terkait simbol adalah konsep sebab akibat. Ada alasan menggunakan jalan cerita, simbol, karakter, kejadian, dan sebagainya. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menggukan simbol.
a.       AL LEGORI – Kiasan
b.      Simbol kompleks
c.       Tamsil-tamsil (Simile)
4.      Karakterisasi dan Akting
Karakterisasi disini meliputi penokohan. Sifat yang khas dimainkan oleh pemeran dalam film. Sangatlah penting penilaian terhadap karakter yang dimainkan pemeran karena sebagai titik cara penyampaian pemeran dalam menyampaikan karakter tokoh. Karakterisasi melalui penampilan, dialog, action eksternal internal, atau karakter dari reasi tokoh lain sangat membantu dalam mewujudkan karakter yang sesuai dengan peran.
5.      Konflik
Konflik yang dimunculkan merupakan alasan utama penonton untuk menonton film. Konflik yang bagus akan membawa penonton mengikuti alur cerita dalam film. Konflik yang berasal dari tokoh utama baik intermal maupun eksternal merupakan titik poin sendiri dalam film
6.      Setting
Setting adalah tempat dan waktu pada film. Sering dilupakan bahwa setting mengambil peran penting dalam film. Suasana yang dibangun pada film tidak melulu pada akting pemain saja, namun setting ikut ambil alih mendukung sempurnya suatu akting. Setting menciptakan suasana tanpa kata-kata.
7.      Judul
Judul merupakan cover paling luar dalam film. Judul merupakan kesatuan alasan cerita film. Judul begitu penting karena penonton seringkali hanya melihat judul sudah bisa menebak jalan cerita film
8.      Ironi
Ironi, dalam pengertian yang paling umum, adalah sebuah teknik sastra, dramatik dan sinematik yang melibatkan hubungan antara hal-hal yang saling bertolakbelakang. Dengan penekanan kepada kontras, kebalikan, dan paradoks yang tajam dan mengejutkan dari pengalaman manusia, ironi dapat menambahkan suatu dimensi intelektual dan dengan demikian sekaligus mencapai dampak kocak dan tragik. Untuk dapat difahami dengan baik, ironi harus  dipecah-pecah menjadi bermacam corak yang dijelaskan dalam hubungan dengan konteks dimana ia mucul[4].
9.      Unsur Visual
Visual begitu penting dalam film karena merupakan alat dasar film dalam berkomunikasi. Sebuah pesan diwujudkan dalam visual gambar kepada penonton. Berkomunikasi melalui gambar dengan penonton. Pada dasarnya, visual akan merujuk pada  sinematik. Sinematik disini visual yang benar-benar difilmkan. Mengikuti kaidah-kaidah film. Film sinematik adalah film yang memanfaatkan semua ciri dan sifat khas yang membuat media film menjadi media yang unik[5]. Yang perlu diperhatikan adalah dapatkah film mengarahkan perhatian penonton pada objek yang penting. Pada objek yang sentral dalam film. Agar film tidak dipahami yang berbeda dari asal film itu dibuat. Diluar sinematik dasar, yang perlu diperhatikan adalah membuat kedalaman. Baik makna maupun visual. Gambar yang hidup dan tidak terkesan dibuat-buat (realiatas).
10.  Editing
Editing juga menjadi bahan yang penting. Film yang berdasarkan cerita yang bagus, film yang sinematik akan sangat didukung dengan adanya editing. Editing juga dapat menutupi cacat-cacat film baik dari cerita yang rendah maupun kesalahan teknis dalam film. Seorang editor harus berhasil melakukan setiap fungsi:
a.       Selektifitas (pemelihan)
b.      Keterpaduan (Coherence) dan Kesinambungan (Continuity)
c.       Transisi
d.      Irama-irama, tempo, dan pengendali waktu
e.       Pemekaran waktu
f.       Pemerasan waktu
g.      Penjajaran kreatif
11.  Tata cahaya dan suara
Tata cahaya akan membuat realis sebuah film. Film yang muncul di layar penonton sebenarnya hasil dari cahaya besar pada saat  pengambilan gambar. Karena kamera tidak seperti mata yang dapat menerima cahaya meskipun dengan low light. Selain lighting sebagai dasar, lighting juga dapat dijadikan efek untuk membuat film yang unik.
Suara pun demikian. Meskipun pada awalnya film muncul dengan tanpa suara, namun seiring jaman suara perlu diperhatikan. Dialog merupakan sarana film untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Suara juga dapat menandakan suatu faktor lain, seperti tempat dan waktu. Semuanya saling terkait.
Perkembangan layar lebar Indonesia

Adapun alur pikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:






 


G.    Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif interaktif observatif. Penelitian interaktif merupakan penelitian yang ada kemungkinan terjadinya saling mempengaruhi antara peneliti dengan sumber datanya[6]. Teknik yang digunakan penulis ketika terlibat langsung dalam kegiatan subjek ketika observasi bersama Montase Film. Pendekatan yang dilakukan menggunakan pendekatan observasi, pendekatan observasi digunakan untukan mendapatkan data dari sumber data berupa peristiwa, aktifitas, perilaku, tempat dan lokasi. Jenis observasi ini dimaksudkan bahwa peneliti memang terlibat langsung dan memiliki peran dalam lokasi penelitian. Sehingga benar-benar terlibat dalam suatu kegiatan yang ditelitinya. Misalnya benar-benar sebagai penduduk. Atau sebagai anggota lembaga atau organisasi yang sedang dikaji[7]. Oleh karena itu, penelitian kualitatif observasi dilakukan dalam mengamati dan ikut berperan aktif dalam proses membuat kritik film pada situs Montase film dalam mengembangkan film layar lebar Indonesia.
2.      Objek Penelitian
Penelitian ini menjadikan kritik yang berkarakter pada situs Montase sebagai objek penelitian. Tidak selamanya kritik dapat diterima oleh masyarakat pada era sekarang. Kritik yang dinilai representasi ketidaksukaan juga bukan selalu seperti itu. Kajian tentang kritik sendiri ini dimunculkan dalam penelitian ini berkaitan semakin rendanya kualitas film terhadap minat penonton. Sering terombang-ambingnya penonton pada film yang beredar dibioskop pada kurun waktu tertentu merupakan sebab ketidaktahuan penonton akan suatu film.  




3.      Sumber Data
Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah:
a.       Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data utama yang digunakan dalam penelitian. Data primer dalam penelitian adalah data observasi ketika penulis melakukan penelitian di Montase film terkait penelitian.
b.      Data Sekunder
Sumber data sekunder ini adalah data yang mencakup buku dan literatur yang terkait dalam kajian Kritik Film pada Situs Montase.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut:
a.       Observasi
Observasi berperan (participant observation) yang dilakukan dengan mendatangi lokasi peristiwa, pada umumnya kehadiran peneliti di lokasi sudah menunjukkan peran yang paling pasif, sebab kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh pribadi yang diamati, dan bagaimanapun hal itu sedikit atau banyak bisa membawa pada pribadi yang diamati[8]. Metode ini dilakukan penulis untuk mengambil data dengan mengamati objek kajian penelitian yaitu Montase Film, dengan mengamati beberapa kegiatan penulis kritik Montase dalam membuat kritik film. Kritik yang dibuat oleh Montase akan menjadi bahan kajian utama dengan dibantu hasil pengamatan dengan segala hal yang berkaitan pendukung suasana saat menulis kritik oleh para penulis kritik Montase. Hasil pengamatan akan materi dalam penelitian ini, selanjutnya dijadikan sebagai data untuk melakukan wawancara.
b.      Wawancara
Wawancara dilakukan dengan menggunakan data yang telah didapatkan pada observasi sebelumnya. Wawancara dijadikan sumber utama data dalam proses pengumpulan data untuk memperoleh validitas data dengan mendapatkan informasi dari pihak-pihak yang berwenang di Montase. Pada proses metode ini akan dijabarkan bagaimana proses pembuatan kritik film oleh pihak Montase. Karakteristik yang menjadi tujuan dan akan diimplementasikan ke dalam kiat-kiat membuat kritik film yang baik dalam era sekarang agar diterima oleh masyarakat. Dalam hal ini wawancara akan dilakukan kepada Ketua pelaksana Montase Film, yaitu Agustinus Dwi Nugroho ketua pelaksana Montase mempunyai peran penting dalam pembuatan karena beliau mempunyai hak materi apa saja yang akan diangkat dalam proses pembuatan kritik. Penasehat Montase, yaitu Himawan Pratista, beliau berperan sebagai yang bertanggungjawab atas tetap berjalannya Montase pada koridor yang telah disepakati dalam pembentukan Montase. Kedua narasumber merupakan orang penting dalam Montase dan mempunyai informasi penting dalam proses kritik yang berkarakter pada situs Montase.  Selain itu juga akan diwawancarai Kepala Divisi Apresiasi Film, Luluk Ulhasanah. Beliau yang bertanggung jawab pembuat kritik dan ulasan film. Wawancara akan dilakukan dengan proses tanya jawab ringan sebagaimana obrolan biasa. Dan waktu lamanya proses wawancafra tiap narasumber sekitar 30-120 menit.
c.       Studi Pustaka
Digunakan beberapa sumber pustaka seperti buku, jurnal, skripsi penelitian sejenis dan internet. Penggunaan pustaka sebagai referensi dalam penelitian kritik film pada Montase film dalam meningkatkan layar lebar Indonesia.
5.      Teknis Analisis Data
Dalam proses analisis data pada penelitian kualitatif, terdapat tiga komponen yaitu, Reduksi data, Sajian data, dan Penarikan kesimpulan serta verikasi data.[9] Semua tahapan tersebut dilakukan secara berkesinambungan dengan fokus pada objek kajian dari awal hingga akhir penelitian.
a.       Reduksi Data
Penelitian ini memerlukan reduksi data, ini merupakan bagian pertama dalam menganalisis, dalam proses ini dilakukan proses penyeleksian, pemfokusan, dan penyederhanaan dari semua data dan informasi kemudian kesimpulan akhir dapat ditarik dan direvikasi. Reduksi data dilakukan dengan membuat ringkasan isi  dari data. Proses reduksi data ini berlangsung terus menerus secara berkelanjutan sampai laporan akhir penelitian siap untuk disusun. [10]
Reduksi data dalam penelitian ini diawali dengan pengumpulan data dengan cara observasi pada Situs Kritik Film Montase, dilanjutkan dengan wawancara beberapa narasumber yang berkompeten di Montase dan menguasai bidang terkait penelitian. Fokus kepada karakater kritik film pada Montase. Dan dampak yang bisa dibuat dari kritik Montase dalam perkembangan film layar lebar Indonesia.
b.      Sajian Data
Sajian data disusun berdasarkan pokok-pokok yang terdapat di reduksi data, dan disajikan dengan menggunakan kalimat dan bahasa peneliti yang merupakan rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan mudah dipahami.[11] Dalam penelitian ini, data akan berbentuk kalimat-kalimat dari bahasan karakter teknik pembuatan kritik Film Montase. Beberapa teori akan dimunculkan untuk memperkuat kajian namun tetap tidak menghilangkan orisinalitas reduksi data.
c.       Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Verifikasi merupakan aktifitas pengulangan untuk tujuan pemantapan, penelusuran data kembali dengan cepat, mungkin sebagai akibat pikiran kedua yang timbul melintas pada peneliti pada waktu menulis sajian data dengan melihat kembali catatan lapangan.[12] Setelah data dari lapangan, yaitu Montase. Data akan disajikan secara orisinil dan ditarik kesimpulan. Film layar lebar Indonesia saat ini dalam keadaan kebimbangan. Selalu mengikuti arah jaman tanpa proteksi sebagai kekhasan film Indonesia. Kritik  merupakan sarana untuk menjaga film Indonesia tetap pada koridor film Indonesia yang berkarakter.

H.    Sistematika Penulisan
Penyusunan tugas akhir skripsi terdiri dari beberapa bab uraian penjelasan kajian Kritik Film pada Situs Montase dalam Mengembangkan Layar Lebar Indonesia. Setiap bab terdiri dari sub-sub. Secara umum uraian pada bab-bab pada uraian skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab I berisi Pendahuluan yang akan membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangaka konseptual, metodo penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II akan menjelaskan mengenai objek penelitian yaitu Kritik Film pada Situs Montase dalam Mengembangkan Layar Lebar Indonesia.
Bab III merupakan pembahasan. Berisi uraian hasil data yang telah dilakukan dari observasi, wawancara dan studi pustaka terkait kajian penelitian. Analisis dari data yang diperoleh dan menjawab pertanyaan dari rumusan masalah.
Bab IV merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi ini. Berisi kesimpulan dan saran. Akan ditarik kesimpulan dari hasil penelitian.

 








J. Daftar Acuan
Buku
Marselli Sumarno. 1996. “Dasar-Dasar Apresiasi Film”. Jakarta: Gramedia
Salim Said. 1991. “Pantulan Layar Kaca”. Jakarta: Penebar Swadaya
Joseph M. Boggs. 1992. “The Art of Watching Film” terjemahan Asrul Sani. Jakarta: Yayasan Citra
Fuad Hasan. 2000. “Karya Seni dan Kritik Seni”. Jakarta: Pasar Seni
H.B. Sutopo. 2006. “Metodelogi Penelitian Kualitatif”. Surakarta: UNS Press
Jurnal dan Skripsi
Euis Komalawati. 2017.“Industri Film Indonesia: Membangun Keselarasan Ekonomi Media Film dan Kualitas Konten” Jurnal. STIAMI Yogyakarta. Diterbitkan
Nurhidayah. 2015.“Peningkatan Keterampilan Menyimak Apresiatif dan Kreatif Tayangan Film melalui Teknik Pencatatan 5R (Record, Reduce, Reciti, Reflect, and Review)”Jurnal. UNY. Diterbitkan
Online
Putri Rosmali. 2017. Peminat Film Indonesia Terus Meningkat. (Online http://www.MediaIndonesia.com diakses pada  24 Maret 2018 11:51)


[1] Fuad Hasan, Karya Seni dan Kritik Seni, (Jakarta: Pasar Seni), 2000, Hal 57
[2] Salim Said, Pantulan Layar Putih, (Jakarta: Penebar Swadaya), 1991, Hal 15
[3] Joseph M.Bogg terjemahan Asrul Sani, Cara Menilai Sebuah Film, Jakarta, 1992, 8
[4] Ibid, 77
[5] Ibid, 85
[6] H.B. Sutopo, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Surakarta: UNS), 2006, 66
[7] Ibid, 76
[8] Ibid, 76
[9] H.B. Sutopo, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Surakarta: UNS), 2006, 113
[10] Ibid, 114
[11] Ibid, 115
[12] Ibid 116