Minggu, 28 Juli 2019

Kritik Film - The Nun 2018



The Nun (2018)
96 min|Horror, Mystery, Thriller|07 Sep 2018
5.8Rating: 5.8 / 10 from 28,390 usersMetascore: 46


A priest with a haunted past and a novice on the threshold of her final vows are sent by the Vatican to investigate the death of a young nun in Romania and confront a malevolent force in the form of a demonic nun.


Director: Corin Hardy
Creator: Gary Dauberman (screenplay by), James Wan (story by), Gary Dauberman (story by)
Actors: Demián Bichir, Taissa Farmiga, Jonas Bloquet, Bonnie Aarons


The Nun merupakan film ke lima dari franchise The Conjuring, yang merupakan spin-off dari film The Conjuring 2. The Nun digarap oleh Corin Hardy (The Hallow) serta dibintangi beberapa nama yang masih asing atau kurang populer, yakni Taissa Farmiga, Demian Bichir, dan Jonas Bloquet. Dengan bujet US$ 22 juta dan kepopuleran franchise-nya, rasanya tak sulit film ini bakal meraih sukses komersial, terlepas bagaimana pun kualitas filmnya.


Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut.
Hey, tunggu, mana Valak? Saya pikir film ini bakal bicara soal asal muasal sang iblis Valak. Rasanya penonton pun bakal berpikiran sama, namun kenyatannya bertutur lain. Film sebenarnya dibuka dengan sangat baik melalui adegan mencekam yang tak banyak memberikan banyak informasi. Alhasil, kisahnya menjadi penuh misteri dan memberi rasa penasaran yang kuat bagi penonton. Berjalannya waktu, sisi misteri satu demi satu terungkap, namun sisi asal muasal sang iblis tak terjawab secara memuaskan. Lalu siapa sebenarnya suster yg dirasuki sang iblis? Plotnya hanya mampu memberikan jawaban satu rangkaian kontinuiti cerita dengan dua film The Conjuring.


Satu hal yang sangat mengesankan dalam film ini jelas ada pada sisi artistiknya. Setting eksterior maupun interior nyaris sama baiknya untuk mendukung atmosfir mistisnya. Sudah terlalu lama, sejak genre ini menampilkan kualitas setting dan tata cahaya begitu menawan seperti ini. Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat dua tokoh utamanya, menyusuri ruang demi ruang, dan lorong demi lorong yang gelap gulita. Rasanya ini adalah setting horor terbaik sejak beberapa dekade silam. Ilustrasi musik juga teramat mendukung segmen horornya maupun jump scare. Hanya saja, bicara soal takut menakuti, film ini terasa kurang menendang, hanya jump scare biasa yang sesekali memang mengagetkan. Hanya sayangnya pula, interior kastil yang sedemikian besar tidak dieksplorasi ruang per ruang hingga terasa agak mubazir.


The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir. Teramat disayangkan dengan latar cerita dan setting yang demikian mengagumkan, para pembuat film kurang mampu mengeksplor naskahnya dengan kedalaman tema serta pesan cerita yang kuat. Coba bayangkan, sisi religius yang terkontaminasi kekuatan iblis berlatar cerita pasca-PD II? What more do you ask? Sayang sekali. Sungguh sayang sekali.







ANALISIS


Seorang imam dengan masa lalu yang angker dan seorang pemula di ambang sumpah terakhirnya dikirim oleh Vatikan untuk menyelidiki kematian seorang biarawati muda di Rumania dan menghadapi kekuatan jahat dalam bentuk seorang biarawati setan.


1. Deskripsi
     a. Informasi dasar film
         - Sutradara                    Director: Corin Hardy
         - Tahun liris                  07 Sep 2018
         - Pemain utama             Demián Bichir, Taissa Farmiga, Jonas Bloquet, Bonnie Aarons
         - Durasi                         96 min
         - Jenis film/Genre         Horror, Mystery, Thriller

     b. Sinopsis singkat
       Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut.

     c. Isu yang menyertai sebelum tayang
         The Nun merupakan film ke lima dari franchise The Conjuring, yang merupakan spin-off dari film The Conjuring 2. The Nun digarap oleh Corin Hardy (The Hallow) serta dibintangi beberapa nama yang masih asing atau kurang populer, yakni Taissa Farmiga, Demian Bichir, dan Jonas Bloquet. Dengan bujet US$ 22 juta dan kepopuleran franchise-nya, rasanya tak sulit film ini bakal meraih sukses komersial, terlepas bagaimana pun kualitas filmnya.


2. Analisis formal

 a. Naratif
     - Alur film
          Hey, tunggu, mana Valak? Saya pikir film ini bakal bicara soal asal muasal sang iblis Valak. Rasanya penonton pun bakal berpikiran sama, namun kenyatannya bertutur lain. Film sebenarnya dibuka dengan sangat baik melalui adegan mencekam yang tak banyak memberikan banyak informasi. Alhasil, kisahnya menjadi penuh misteri dan memberi rasa penasaran yang kuat bagi penonton. Berjalannya waktu, sisi misteri satu demi satu terungkap, namun sisi asal muasal sang iblis tak terjawab secara memuaskan. Lalu siapa sebenarnya suster yg dirasuki sang iblis? Plotnya hanya mampu memberikan jawaban satu rangkaian kontinuiti cerita dengan dua film The Conjuring.

      - Batasan isi film
           Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut

      - Pengadeganan
           Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut.

       - Pola struktur naratif
       - Studi kasus dalam film

           Alkisah, beberapa tahun sejak Perang Dunia Kedua usai, pihak Vatikan memanggil pendeta Burke untuk menyelidiki kematian seorang suster yang ada di sebuah biara terpencil di Rumania. Burke ditemani oleh calon suster muda bernama Irine yang dianggap memiliki pengalaman untuk kasus tersebut. Sesampainya di sana, kejadian aneh banyak menimpa mereka, dan mereka sadar betul jika ada kekuatan jahat yang bersemayam di biara tersebut


b. Sinematik


- Stuktur film (Shot, adegan, sekuen)
Satu hal yang sangat mengesankan dalam film ini jelas ada pada sisi artistiknya. Setting eksterior maupun interior nyaris sama baiknya untuk mendukung atmosfir mistisnya. Sudah terlalu lama, sejak genre ini menampilkan kualitas setting dan tata cahaya begitu menawan seperti ini. Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat dua tokoh utamanya, menyusuri ruang demi ruang, dan lorong demi lorong yang gelap gulita. Rasanya ini adalah setting horor terbaik sejak beberapa dekade silam. Ilustrasi musik juga teramat mendukung segmen horornya maupun jump scare. Hanya saja, bicara soal takut menakuti, film ini terasa kurang menendang, hanya jump scare biasa yang sesekali memang mengagetkan. Hanya sayangnya pula, interior kastil yang sedemikian besar tidak dieksplorasi ruang per ruang hingga terasa agak mubazir.

- Mise en scene (Setting, Kostum, tata rias, lighting, blocking)
The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir. Teramat disayangkan dengan latar cerita dan setting yang demikian mengagumkan, para pembuat film kurang mampu mengeksplor naskahnya dengan kedalaman tema serta pesan cerita yang kuat. Coba bayangkan, sisi religius yang terkontaminasi kekuatan iblis berlatar cerita pasca-PD II? What more do you ask? Sayang sekali. Sungguh sayang sekali

- Sinematografi
The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir

3. Interpretasi
4. Penilaian
5. Aspek yang dikritik
Hey, tunggu, mana Valak? Saya pikir film ini bakal bicara soal asal muasal sang iblis Valak. Rasanya penonton pun bakal berpikiran sama, namun kenyatannya bertutur lain. Film sebenarnya dibuka dengan sangat baik melalui adegan mencekam yang tak banyak memberikan banyak informasi. Alhasil, kisahnya menjadi penuh misteri dan memberi rasa penasaran yang kuat bagi penonton. Berjalannya waktu, sisi misteri satu demi satu terungkap, namun sisi asal muasal sang iblis tak terjawab secara memuaskan. Lalu siapa sebenarnya suster yg dirasuki sang iblis? Plotnya hanya mampu memberikan jawaban satu rangkaian kontinuiti cerita dengan dua film The Conjuring.

Satu hal yang sangat mengesankan dalam film ini jelas ada pada sisi artistiknya. Setting eksterior maupun interior nyaris sama baiknya untuk mendukung atmosfir mistisnya. Sudah terlalu lama, sejak genre ini menampilkan kualitas setting dan tata cahaya begitu menawan seperti ini. Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat dua tokoh utamanya, menyusuri ruang demi ruang, dan lorong demi lorong yang gelap gulita. Rasanya ini adalah setting horor terbaik sejak beberapa dekade silam. Ilustrasi musik juga teramat mendukung segmen horornya maupun jump scare. Hanya saja, bicara soal takut menakuti, film ini terasa kurang menendang, hanya jump scare biasa yang sesekali memang mengagetkan. Hanya sayangnya pula, interior kastil yang sedemikian besar tidak dieksplorasi ruang per ruang hingga terasa agak mubazir.

The Nun, jelas bukan yang terbaik di serinya, namun pencapaian mise_en_scene-nya adalah yang terbaik untuk genrenya sejak beberapa dekade terakhir. Teramat disayangkan dengan latar cerita dan setting yang demikian mengagumkan, para pembuat film kurang mampu mengeksplor naskahnya dengan kedalaman tema serta pesan cerita yang kuat. Coba bayangkan, sisi religius yang terkontaminasi kekuatan iblis berlatar cerita pasca-PD II? What more do you ask? Sayang sekali. Sungguh sayang sekali.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar