KRITIK
FILM PADA SITUS “MONTASE” DALAM
MENGEMBANGKAN FILM LAYAR LEBAR INDONESIA
PROPOSAL
TUGAS AKHIR SKRIPSI
Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna
Mencapai Derajat Sarjana Strata-1 (S-1)
Program Studi Televisi dan Film
Jurusan Seni Media Rekam
Oleh:
Ahmad Nur Chafid Fitriyan
NIM 15148103
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT SENI INDENESIA
SURAKARTA
2018
DAFTAR
ISI
HALAMAN SAMPUL
......................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................... ii
DAFTAR ISI
....................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang .......................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah ..................................................................... 4
C. Tujuan
Penelitian
....................................................................... 4
D. Manfaat
Penelitian ..................................................................... 4
E. Tinjauan
Pustaka ....................................................................... 4
F. Kerangka
Konseptual
a.
Tema dan Maksud
................................................................ 6
b.
Unsur Cerita dan Dramatik
.................................................... 6
c.
Simbol
................................................................................ 7
d.
Karakterisasi dan Akting
....................................................... 7
e.
Konflik ................................................................................ 7
f.
Setting
................................................................................. 8
g.
Judul
................................................................................... 8
h.
Ironi
.................................................................................... 8
i.
Unsur Visual
........................................................................ 8
j.
Editing
................................................................................ 9
k.
Tata Cahaya dan Suara .......................................................... 9
G. Metode
Penelitian
1.
Jenis Penelitian
.................................................................... 11
2.
Objek Penelitian
.................................................................. 11
3.
Sumber Data
........................................................................ 11
4.
Teknik Pengumpulan Data
.................................................... 12
5.
Teknis Analisis Data
............................................................. 13
H.
Sistematika Penulisan
................................................................. 15
I.
Jadwal Penelitian
....................................................................... 16
J.
Daftar Acuan ............................................................................. 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang
kritik selalu akan menghadapi ketidaksukaan. Kebanyakan kritik akan
disandingkan dengan pendapat negatif tentang suatu kajian yang dikritik.
Padahal sebenarnya alasan dimunculkanya suatu kritik adalah untuk membangun.
Baik itu berupa kritik negatif maupun positif, akan sangat bergantung pada
penerimaan yang dikritik. Istilah kritik berasal dari bahasa Yunani krites berarti seseorang hakim; krinien berarti menghakimi; kriterion diartikan sebagai dasar penghakiman,
dan kritikos berarti hakim kesenian.
Fuad Hassan meninjau pengertian kritik dari istilah kritos atau krinein, yang
berarti memilah-milah atau memisah-misah.
Kritik tidak melulu
pada suatu kajian yang bersifat teoretis, lebih luas lagi kritik mencakup pula
ranah seni. Seni yang dianggap terbelakang dengan tehnologi, ternyata pada era
sekarang seni menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan. Maju mundurnya kritik
tergantung sepenuhnya pada maju mundurnya sang objek.
Pandangan yang mendeskriminasi kritikus akan terpatahkan jika memahami kritikus
sebenarnya dihadirkan untuk membuat matang seniman dalam berkarya ke depannya.
Perkembangan kritik film Indonesia sangat memperhatikan dari tahun ke
tahun. Pada awal munculnya film di Indonesia pada 1950-1990 sempat mengalami
kejaan. Jumlah kritikus sempat
menurun pada awal tahun 2000 an. Kemunduran ini jika dilihat dari ranah kritik
seakan kritik memang sengaja dimundurkan. Pada
awal tahun 2000 an, kritik film seakan mengjhilang dengan tidak adanya ruang
seperti dahulu pada tahun 1990 an. Realitas ini dapat dilihat dari kemunculan
film pada tahun 2000 an yang bermacam-macam namun tidak menjelaskan makna yang
lebih dari film yang tayang.
Pada tahun 2000an sangat sedikit sekali film yang bermutu dilihat dari
segi filmatiknya. Hanya sekedar membuat film dan memperoleh untung dari film
yang tayang di bioskop. Pada waktu itu tidak adanya sensor yang ketat dan
segmentasi penonton membuat film layar Indonesia seakan kabur pendangannya.
Kritikus film saat ini
terbantu dengan adanya kemajuan tehnologi. Tidak harus menulis di surat kabar
maupun koran untuk menyampaikan apresiasinya terhadap film. Saat ini banyak
kritikus luar negri yang menitih karir dengan menulis kritik di website, blog,
maupun media sosial. Namun permasalahan akan muncul akankah dibaca atau tidak. Montase adalah salah satu website kritik
film. Meskipun tidak fokus terhadap kritik film yang mendalam, namun website
ini menghadirkan kritik dengan nuansa lain. Montase didirikan untuk memberi
payung kepada para pengamat film dalam menulis kritik maupun review mereka.
Didirikan oleh Himawan Pratista yang merupakan guru pengajar dasar film di
beberapa kampus. Montase memberikan review
maupun kritik yang dapat dikatakan tidak terlalu pedas bagi umumnya kritikus di
luar negeri.
Dikarenakan tujuan utama Montase adalah membangun stigma masyarakat yang pandai film.
Montase
membangun stigma masyarakat yang pandai film. Website yang menghadirkan ulasan review film, informasi tentang film,
berita film yang sedang tayang di bioskop, dan lain-lain. Situs ini juga tempat
berkumpul para penyuka
film untuk
membuat film bagi para pemula. Meskipun baru beberapa tahun berdiri, namun situs telah
menjembatani bagi para penyuka film untuk berkreasi.
Kritik yang dibuat pada
situs Montase berdasarkan pengalaman
kritikus setelah menonton film. Montase menyebut kritik dengan review film.
Meskipun review dan kritik tipis perbedaan yang dimunculkan, namun itu tetap
disebut sebagai salahsatu apresiasi film. Kebanyakan kritik ditulis untuk film
yang baru rilis di bioskop. Mengapa demikian, karena itu yang dibutuhkan oleh
penonton sebelum menonton ataupun setelah menonton pada hari pertama penayangan
film.
Alur yang diciptakan membuat kritik pada situs ini adalah
ketika setelah melihat review, penonton akan merasa spoiler. Atau penonton akan lebih tahu setelah melihat review dan
menjawab pertanyaan-pertanyaan saat menonton film. Menjadikan penonton yang
lebih pandai dalam memilih film dan mengerti akan maksud yang ingin disampaikan
sutradara kepada penonton melalui film.
Penonton yang cerdas
akan meningkatkan kualitas film. Penonton akan pandai dalam menyeleksi film
mana yang ia harus tonton sesuai dengan kebutuhan. Pada era new media ini, tentu akan meningkatkan
kuantitas jika bangunan dasar kualitas film yang baik. Untuk merealisasikan itu
salahsatunya dengan kajian. Kami memberikan judul proposal skripsi dengan judul " Kritik
Film pada Situs “Montase” dalam
Mengembangkan Film Layar Lebar Indonesia ". Montase hadir
memberikan angin segar bagi penonton untuk
mengapresiasi sebuah film. Semakin cerdas
penonton dengan apresiasi, maka semakin tinggi pula kualitas film yang
dibuat oleh para sineas.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dipaparkan, maka rumusan penelitian ini adalah Bagaimana membuat kritik film dengan teknik yang digunakan situs
Montase untuk mengembangkan film layar lebar Indonesia.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk
mengkaji secara mendalam cara membuat kritik film menurut situs Montase melalui paparan deskriptif
kualitatif.
D.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat
secara luas : Penelitian dapat digunakan untuk membenamkan pada diri penonton
untuk kritis terhadap film dan memperkenalkan situs Montase,
2.
Manfaat
secara khusus : Penelitian dapat digunakan untuk menambah referensi tentang
kritik film pada penelitian yang lain.
E. Tinjaun
Pustaka
Berdasarkan hasil observasi pada penelitian
melalui kepustakaan. Ditemukan di lapangan bahwa penelitian tentang kritik film
sudah banyak. Namun perlu diketahui bahwa penelitian kebanyakan sudah usang.
Dikarenakan kebanyakan penelitian sebelum tahun 2000an, antara tahun 2000-2015
an dapat dikatakan penelitian kritik seakan mati. Belum diketahui penyebabnya,
atau mungkin belum menemukan penelitian tentang kritik film yang sejenis
Jurnal Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan
Manajemen Institut STIAMI oleh Euis Komalawati, berjudul Industri Film
Indonesia: Membangun Keselarasan Ekonomi Media Film dan Kualitas Konten,
diterbitkan 2017. Menjelaskan tentang perkembangan industri perfilman Indonesia
saat ini. Jurnal ini akan dipakai pada pembahasan tentang perkembangan
apresiasi film Indonesia. Persamaan dengan penelitian adalah jurnal ini
sama-sama membahas perkembangan apresiasi penonton film Indonesia. Perbedaan
jurnal ini dengan penelitian adalah peneletian terfokus dalam situs Montase
sebagai apresiasi dan review film Indonesia, sedangkan jurnal ini perkembangan
ekonomi film Indonesia jika dilihat dari sudut pandang ekonomi.
Jurnal Litera. FBS Universitas Negri Yogyakarta
oleh Nurhidayah, berjudul Peningkatan Keterampilan Menyimak Apresiatif dan Kreatif
Tayangan Film melalui Teknik Pencatatan 5R (Record,
Reduce, Reciti, Reflect, and Review), diterbitkan 2015. Jurnal ini
menjelaskan tentang proses Apresiasi film dengan teknik Pencatatan 5R. Lebih
fokus lagi tentang cara membuat kritik film dengan konsep komunikasi dan
bahasa. Jurnal ini digunakan sebagai pengambilan konsep apresiasi film dilihat
dari bahasa. Persamaan dengan penelitian yaitu sama-sama membahas kritik film.
Perbedaan dengan penelitian yaitu penelitian membahas proses atau konsep yang
digunakan situs Montase dalam membuat kritik (review) film menurut konsep
sinematik. sedangkan jurnal ini membahas konsep membuat apresiasi film dengan
teknik 5R (Teknik Komunikasi).
. Buku
“Dasar-Dasar Apresiasi Film” karya Marselli Sumarno, buku ini menjelaskan
tentang konsep model yang digunakan Marselli dalam prosedur pendekatan film
demi penilaian. Model yang dia gunakan dalam mengkritisi suatu film. Model ini
yang akan dijadikan perbandingan dengan konsep Montase dalam membuat suatu
kriktik film.
Buku “Pantulan Layar Putih” Karya Salim Said,
Buku ini menjelaskan permasalahan-permasalahan yang dihadapi kritikus pada
tahun 90an dan penyelesaian. Pada dasarnya permasalahan yang dirasakan kritikus
merupakan suatu delima yang berketerusan selama kritikus itu ada. Buku ini
menjelaskan juga pengalaman kritikus pada masanya. Dengan mengambil data dari
buku ini, akan dijelaskan dalam penelitian bahwa kritikus sangat mempengaruhi penonton
dan film. Pengaplikasian terhadap penelitian adalah memperkuat statement
Montase dalam menyampaikan konsep cara menjadi kritikus.
Dari beberapa penelitian yang ditemukan, belum
di temukan penelitian kritik film yang diaplikasikan di suatu new media seperti Montase. “Kritik Film
pada Situs Montase dalam Mengembangkan Layar Lebar Indonesia” yang memfokuskan
kritik pada new media. Sangat berbeda dengan kritik konvensional. Membuat melek
film dengan belajar pada kritikus film.
F.
Kerangka Konseptual
Memahami kritik dan membuat kritik memerlukan sebuah pendekatan. Pendekatan
analitik bukanlah salahsatunya pendekatan yang berlaku dalam pengkajian film.
Pendekatan ini yang digunakan dalam banyak kajian daripada pendekatan emosional
dan intuitif tidak dapat digunakan karena bersifat subjektif dari satu orang ke
orang lain. Pendekatan
yang analitik digunakan oleh situs Montase dalam membuat kritik. Beberapa aspek
yang harus ada ketika membuat kritik film.
1.
Tema dan
Maksud
Tema dan maksud ketika memahami sebuah film
diperlukan agar dapat merasakan apa yang ingin dikatakan film. Tema sangatlah
penting karena mempengaruhi sudut pandang penonton dalam menonton film. Salah
satu yang harus digunakan untuk mempermudah memahami film adalah dengan
menonton dua kali. Memang sulit menerima isi film jika menonton sepintas.
Terkadang kesan pertama menonton film adalah menikmati film, bukan mempelajari
film.
Menentukan dan tipe dasar film harus dilakukan
selanjutnya dan membreakdown film
berdasarkan tema.
a.
Plot
sebagai tema
b.
Emosional
sebagai tema
c.
Tokoh
sebagai tema
d.
Ide
sebagai tema
Setelah mengetahui tema yang ada dalam film. Selanjutnya
adalah menilai tema. Penilaian ini bersifat umum dan penilaian sementara untuk
film.
2.
Unsur
Cerita dan Dramatik
Menarik atau tidaknya film juga dipengaruhi
oleh unsur cerita. Sebuah cerita yang bagus dipersatukan dalam kesatuan plot,
bisa masuk akal, menarik bagi penonton,
memberikan kesan berbeda seperti suspen
atau ketegangan, ataupun action dan gerak yang berbeda. Sebuah cerita yang
bagus bersahaja tapi sekaligus kompleks. Kompleks disini bukan menuntut tema
film yang kompleks, tapi lebih kepada jalan cerita yang tidak datar-datar.
Sebuah cerita yang baik menahan diri dalam mengolah materi emosional.
Struktur dramatik penataan bagian-bagian secara
logis dan estetis untuk menghasilkan dampak emosional intelektual dan dramatik
yang maksimum. Biasanya struktur dramatik meliputi tiga babak. Permulaan,
permasalahan, dan penyelesaian. Namun itu bukanlah suatu hal yang simple
seperti itu. Setiap babak mempunyai penekanan masing-masing dan saling terkait
satu sama lain. Suasana penonton dimainkan dalam struktur dramatik ini.
3.
Simbol
Simbol merupakan sesuatu yang mewakili sesuatu
yang lain dan yang mengkomunikasikan “sesuatu yang lain” itu dengan jalan merangsang.
Memberikan stigma kepada penonton melalui simbol-simbol. Simbol yang universal dan alamiah merupakan dasar dalam kehidupan
sehari-hari karena sering dimunculkan. Pembuat film juga akan menciptakan simbol bilamana bahasa film
tidak dapat tervisualisasi pada film. Konsep yang perlu digunakan terkait
simbol adalah konsep sebab akibat. Ada alasan menggunakan jalan cerita, simbol,
karakter, kejadian, dan sebagainya. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan ketika menggukan simbol.
a.
AL LEGORI – Kiasan
b.
Simbol
kompleks
c.
Tamsil-tamsil (Simile)
4.
Karakterisasi
dan Akting
Karakterisasi disini meliputi penokohan. Sifat
yang khas dimainkan oleh pemeran dalam film. Sangatlah penting penilaian
terhadap karakter yang dimainkan pemeran karena sebagai titik cara penyampaian
pemeran dalam menyampaikan karakter tokoh. Karakterisasi melalui penampilan,
dialog, action eksternal internal,
atau karakter dari reasi tokoh lain sangat membantu dalam mewujudkan karakter
yang sesuai dengan peran.
5.
Konflik
Konflik yang dimunculkan merupakan alasan utama
penonton untuk menonton film. Konflik yang bagus akan membawa penonton
mengikuti alur cerita dalam film. Konflik yang berasal dari tokoh utama baik
intermal maupun eksternal merupakan titik poin sendiri dalam film
6.
Setting
Setting
adalah tempat dan waktu pada film. Sering dilupakan bahwa setting mengambil
peran penting dalam film. Suasana yang dibangun pada film tidak melulu pada
akting pemain saja, namun setting ikut ambil alih mendukung sempurnya suatu
akting. Setting menciptakan suasana tanpa kata-kata.
7.
Judul
Judul merupakan cover paling luar dalam film. Judul merupakan kesatuan alasan
cerita film. Judul begitu penting karena penonton seringkali hanya melihat
judul sudah bisa menebak jalan cerita film
8.
Ironi
Ironi, dalam pengertian yang paling umum,
adalah sebuah teknik sastra, dramatik dan sinematik yang melibatkan hubungan
antara hal-hal yang saling bertolakbelakang. Dengan penekanan kepada kontras,
kebalikan, dan paradoks yang tajam dan mengejutkan dari pengalaman manusia,
ironi dapat menambahkan suatu dimensi intelektual dan dengan demikian sekaligus
mencapai dampak kocak dan tragik. Untuk dapat difahami dengan baik, ironi
harus dipecah-pecah menjadi bermacam
corak yang dijelaskan dalam hubungan dengan konteks dimana ia mucul.
9.
Unsur
Visual
Visual begitu penting dalam film karena
merupakan alat dasar film dalam berkomunikasi. Sebuah pesan diwujudkan dalam
visual gambar kepada penonton. Berkomunikasi melalui gambar dengan penonton.
Pada dasarnya, visual akan merujuk pada sinematik. Sinematik disini visual yang
benar-benar difilmkan. Mengikuti kaidah-kaidah film. Film sinematik adalah film
yang memanfaatkan semua ciri dan sifat khas yang membuat media film menjadi
media yang unik.
Yang perlu diperhatikan adalah dapatkah film mengarahkan perhatian penonton
pada objek yang penting. Pada objek yang sentral dalam film. Agar film tidak
dipahami yang berbeda dari asal film itu dibuat. Diluar sinematik dasar, yang
perlu diperhatikan adalah membuat kedalaman. Baik makna maupun visual. Gambar
yang hidup dan tidak terkesan dibuat-buat (realiatas).
10. Editing
Editing juga menjadi bahan yang penting. Film
yang berdasarkan cerita yang bagus, film yang sinematik akan sangat didukung
dengan adanya editing. Editing juga dapat menutupi cacat-cacat film baik dari
cerita yang rendah maupun kesalahan teknis dalam film. Seorang editor harus
berhasil melakukan setiap fungsi:
a.
Selektifitas
(pemelihan)
b.
Keterpaduan
(Coherence) dan Kesinambungan (Continuity)
c.
Transisi
d.
Irama-irama,
tempo, dan pengendali waktu
e.
Pemekaran
waktu
f.
Pemerasan
waktu
g.
Penjajaran
kreatif
11. Tata cahaya dan suara
Tata cahaya akan membuat realis sebuah film.
Film yang muncul di layar penonton sebenarnya hasil dari cahaya besar pada
saat pengambilan gambar. Karena kamera
tidak seperti mata yang dapat menerima cahaya meskipun dengan low light. Selain
lighting sebagai dasar, lighting juga dapat dijadikan efek untuk
membuat film yang unik.
Suara pun demikian. Meskipun pada awalnya film
muncul dengan tanpa suara, namun seiring jaman suara perlu diperhatikan. Dialog
merupakan sarana film untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Suara juga dapat
menandakan suatu faktor lain, seperti tempat dan waktu. Semuanya saling
terkait.
Perkembangan layar lebar Indonesia
Adapun alur pikir dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
G.
Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif interaktif observatif. Penelitian interaktif merupakan penelitian
yang ada kemungkinan terjadinya saling mempengaruhi antara peneliti dengan
sumber datanya.
Teknik yang digunakan penulis ketika terlibat langsung dalam kegiatan subjek
ketika observasi bersama Montase Film. Pendekatan yang dilakukan menggunakan
pendekatan observasi, pendekatan observasi digunakan untukan mendapatkan data
dari sumber data berupa peristiwa, aktifitas, perilaku, tempat dan lokasi.
Jenis observasi ini dimaksudkan bahwa peneliti memang terlibat langsung dan
memiliki peran dalam lokasi penelitian. Sehingga benar-benar terlibat dalam
suatu kegiatan yang ditelitinya. Misalnya benar-benar sebagai penduduk. Atau
sebagai anggota lembaga atau organisasi yang sedang dikaji. Oleh
karena itu, penelitian kualitatif observasi dilakukan dalam mengamati dan ikut
berperan aktif dalam proses membuat kritik film pada situs Montase film dalam
mengembangkan film layar lebar Indonesia.
2. Objek Penelitian
Penelitian ini menjadikan kritik yang
berkarakter pada situs Montase sebagai objek penelitian. Tidak selamanya kritik
dapat diterima oleh masyarakat pada era sekarang. Kritik yang dinilai
representasi ketidaksukaan juga bukan selalu seperti itu. Kajian tentang kritik
sendiri ini dimunculkan dalam penelitian ini berkaitan semakin rendanya
kualitas film terhadap minat penonton. Sering terombang-ambingnya penonton pada
film yang beredar dibioskop pada kurun waktu tertentu merupakan sebab
ketidaktahuan penonton akan suatu film.
3. Sumber Data
Sumber data yang
digunakan pada penelitian ini adalah:
a.
Data Primer
Sumber
data primer adalah sumber data utama yang digunakan dalam penelitian. Data
primer dalam penelitian adalah data observasi ketika penulis melakukan
penelitian di Montase film terkait penelitian.
b.
Data
Sekunder
Sumber data sekunder
ini adalah data yang mencakup buku dan literatur yang terkait dalam kajian
Kritik Film pada Situs Montase.
4.
Teknik
Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni sebagai
berikut:
a.
Observasi
Observasi
berperan (participant observation)
yang dilakukan dengan mendatangi lokasi peristiwa, pada umumnya kehadiran
peneliti di lokasi sudah menunjukkan peran yang paling pasif, sebab
kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh pribadi yang diamati, dan
bagaimanapun hal itu sedikit atau banyak bisa membawa pada pribadi yang diamati. Metode
ini dilakukan penulis untuk mengambil data dengan mengamati objek kajian
penelitian yaitu Montase Film, dengan mengamati beberapa kegiatan penulis
kritik Montase dalam membuat kritik film. Kritik yang dibuat oleh Montase akan
menjadi bahan kajian utama dengan dibantu hasil pengamatan dengan segala hal
yang berkaitan pendukung suasana saat menulis kritik oleh para penulis kritik
Montase. Hasil pengamatan akan materi dalam penelitian ini, selanjutnya dijadikan
sebagai data untuk melakukan wawancara.
b.
Wawancara
Wawancara
dilakukan dengan menggunakan data yang telah didapatkan pada observasi
sebelumnya. Wawancara dijadikan sumber utama data dalam proses pengumpulan data
untuk memperoleh validitas data dengan mendapatkan informasi dari pihak-pihak
yang berwenang di Montase. Pada proses metode ini akan dijabarkan bagaimana
proses pembuatan kritik film oleh pihak Montase. Karakteristik yang menjadi
tujuan dan akan diimplementasikan ke dalam kiat-kiat membuat kritik film yang
baik dalam era sekarang agar diterima oleh masyarakat. Dalam hal ini wawancara
akan dilakukan kepada Ketua pelaksana Montase Film, yaitu Agustinus Dwi Nugroho
ketua pelaksana Montase mempunyai peran penting dalam pembuatan karena beliau
mempunyai hak materi apa saja yang akan diangkat dalam proses pembuatan kritik.
Penasehat Montase, yaitu Himawan Pratista, beliau berperan sebagai yang
bertanggungjawab atas tetap berjalannya Montase pada koridor yang telah
disepakati dalam pembentukan Montase. Kedua narasumber merupakan orang penting
dalam Montase dan mempunyai informasi penting dalam proses kritik yang
berkarakter pada situs Montase. Selain
itu juga akan diwawancarai Kepala Divisi Apresiasi Film, Luluk Ulhasanah.
Beliau yang bertanggung jawab pembuat kritik dan ulasan film. Wawancara akan
dilakukan dengan proses tanya jawab ringan sebagaimana obrolan biasa. Dan waktu
lamanya proses wawancafra tiap narasumber sekitar 30-120 menit.
c.
Studi
Pustaka
Digunakan
beberapa sumber pustaka seperti buku, jurnal, skripsi penelitian sejenis dan
internet. Penggunaan pustaka sebagai referensi dalam penelitian kritik film
pada Montase film dalam meningkatkan layar lebar Indonesia.
5. Teknis Analisis Data
Dalam proses analisis data pada penelitian
kualitatif, terdapat tiga komponen yaitu, Reduksi data, Sajian data, dan
Penarikan kesimpulan serta verikasi data. Semua
tahapan tersebut dilakukan secara berkesinambungan dengan fokus pada objek
kajian dari awal hingga akhir penelitian.
a.
Reduksi
Data
Penelitian
ini memerlukan reduksi data, ini merupakan bagian pertama dalam menganalisis,
dalam proses ini dilakukan proses penyeleksian, pemfokusan, dan penyederhanaan
dari semua data dan informasi kemudian kesimpulan akhir dapat ditarik dan
direvikasi. Reduksi data dilakukan dengan membuat ringkasan isi dari data. Proses reduksi data ini
berlangsung terus menerus secara berkelanjutan sampai laporan akhir penelitian
siap untuk disusun.
Reduksi
data dalam penelitian ini diawali dengan pengumpulan data dengan cara observasi
pada Situs Kritik Film Montase, dilanjutkan dengan wawancara beberapa
narasumber yang berkompeten di Montase dan menguasai bidang terkait penelitian.
Fokus kepada karakater kritik film pada Montase. Dan dampak yang bisa dibuat
dari kritik Montase dalam perkembangan film layar lebar Indonesia.
b.
Sajian
Data
Sajian
data disusun berdasarkan pokok-pokok yang terdapat di reduksi data, dan
disajikan dengan menggunakan kalimat dan bahasa peneliti yang merupakan rakitan
kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan
mudah dipahami.
Dalam penelitian ini, data akan berbentuk kalimat-kalimat dari bahasan karakter
teknik pembuatan kritik Film Montase. Beberapa teori akan dimunculkan untuk
memperkuat kajian namun tetap tidak menghilangkan orisinalitas reduksi data.
c.
Penarikan
Kesimpulan dan Verifikasi
Verifikasi
merupakan aktifitas pengulangan untuk tujuan pemantapan, penelusuran data
kembali dengan cepat, mungkin sebagai akibat pikiran kedua yang timbul melintas
pada peneliti pada waktu menulis sajian data dengan melihat kembali catatan
lapangan.
Setelah data dari lapangan, yaitu Montase. Data akan disajikan secara orisinil
dan ditarik kesimpulan. Film layar lebar Indonesia saat ini dalam keadaan
kebimbangan. Selalu mengikuti arah jaman tanpa proteksi sebagai kekhasan film
Indonesia. Kritik merupakan sarana untuk
menjaga film Indonesia tetap pada koridor film Indonesia yang berkarakter.
H.
Sistematika
Penulisan
Penyusunan
tugas akhir skripsi terdiri dari beberapa bab uraian penjelasan kajian Kritik
Film pada Situs Montase dalam Mengembangkan Layar Lebar Indonesia. Setiap bab
terdiri dari sub-sub. Secara umum uraian pada bab-bab pada uraian skripsi ini
adalah sebagai berikut:
Bab
I berisi Pendahuluan yang akan membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangaka konseptual, metodo
penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab
II akan menjelaskan mengenai objek penelitian yaitu Kritik Film pada Situs
Montase dalam Mengembangkan Layar Lebar Indonesia.
Bab
III merupakan pembahasan. Berisi uraian hasil data yang telah dilakukan dari
observasi, wawancara dan studi pustaka terkait kajian penelitian. Analisis dari
data yang diperoleh dan menjawab pertanyaan dari rumusan masalah.
Bab
IV merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi ini. Berisi kesimpulan dan
saran. Akan ditarik kesimpulan dari hasil penelitian.
J.
Daftar Acuan
Buku
Marselli Sumarno. 1996.
“Dasar-Dasar Apresiasi Film”.
Jakarta: Gramedia
Salim Said. 1991. “Pantulan Layar Kaca”. Jakarta: Penebar
Swadaya
Joseph M. Boggs. 1992. “The Art of Watching Film” terjemahan
Asrul Sani. Jakarta: Yayasan Citra
Fuad Hasan. 2000. “Karya Seni dan Kritik Seni”. Jakarta: Pasar Seni
H.B. Sutopo. 2006. “Metodelogi Penelitian Kualitatif”. Surakarta: UNS Press
Jurnal
dan Skripsi
Euis
Komalawati. 2017.“Industri Film
Indonesia: Membangun Keselarasan Ekonomi Media Film dan Kualitas Konten”
Jurnal. STIAMI Yogyakarta. Diterbitkan
Nurhidayah. 2015.“Peningkatan Keterampilan
Menyimak Apresiatif dan Kreatif Tayangan Film melalui Teknik Pencatatan 5R
(Record, Reduce, Reciti, Reflect, and Review)”Jurnal. UNY. Diterbitkan
Online